Jumat, 20 Juli 2012

Contoh Kritik Karya Sastra


Banyak pesan moral yang terkandung dari cerpen-cerpen Indonesia. Misalnya, Awaliya Nur Ramadhan melalui cerpennya yang berjudul “Permintaan Sebuah Diary”. Dia menitipkan pesan moral akan pentingnya keluarga dan perhatian orang tua kepada anak. Dalam cerpennya itu, dia menggambarkan seorang anak bernama Dilla yang sangat kesepian meskipun hidupnya tercukupi oleh ayahnya. Tapi, sayangnya sang ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya, hingga pada suatu hari Dilla memutuskan pergi dari rumah dan mencari Bundanya.
Ketika Dilla sedang duduk termenung di taman kota, terdengar suara teriakan sang ayah yang senang karena telah menemukan Dilla. Tapi, Dilla tak ingin diajaknya pulang karena masih kesal dengan ayahnya yang tak pernah mengerti apa maunya. Akhirnya, Dilla pergi meninggalkan ayahnya di taman kota.
Di tengah perjalanannya, kakinya terhenti di depan rumah kecil yang berada di bawah jembatan. Diketuknya pintu itu. Tapi taka da jawaban dari dalam rumah. Tak sengaja, tiba-tiba pintu rumah terbuka dengan sendirinya karena sang pemilik rumah tak mengunci pintu. Dibukanya pintu itu, dan betapa terkejutnya Dilla saat mendapati seorang wanita separuh baya tergeletak pingsan di depannya. Dilihatnya orang itu, dan ternyata itu Bunda Dilla. Dirawatnya wanita itu hingga sehat. Setelah Bundanya sehat, Dilla memutuskan untuk kembali pulang ke rumah karena khawatir meninggalkan ayahnya sendirian di rumah.
 Seperti biasa, Dilla mencurahkan isi hatinya pada sebuah diary, buku harian kecil yang selalu menemaninya. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, cepat-cepat Dilla menyembunyikan diarynya di bawah bantal. Ternyata itu ayah Dilla yang begitu senang mendapati anak semata wayangnya kembali pulang. Diajaknya Dilla untuk berbicara. Tapi karena Dilla yang masih kesal pada ayahnya hingga tak kuat menahannya, tiba-tiba dilla terjatuh pingsan. Dibawalah Dilla ke Rumah Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit, ayah Dilla begitu terkejut ketika sang dokter menyatakan penyakit leukimia Dilla yang sudah dideritanya sejak 2 tahun lalu kembali kambuh. Dengan perasaan bersalah karena gagal sebagai ayah, dihampirilah Dilla yang sedang terbaring lemah di ranjangnya. Ditanyanya apa yang sebenarnya Dilla inginkan. Tak sempat Dilla melanjutkan kata-kata keinginannya, Tuhan sudah mencabut nyawanya dan sang ayah tak pernah tahu apa yang Dilla inginkan selama ini. Hingga pada suatu hari sang ayah menemukan diary milik Dilla di kamarnya. Dibacanya perlahan masing-masing halaman dan akhirnya sang ayah tahu apa yang Dilla inginkan selama ini.



……………………………………………………………..
Ayah, aku hanya ingin ayah dan Bunda bersatu kembali.
Itulah yang Dilla inginkan selama ini.
Jemputlah Bunda di rumah kecil di bawah jembatan.
 
 



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar